31 C
Semarang
Monday, 31 March 2025

Ketua Komisi D Kendal Sayangkan Lulusan SMK Minim Keterampilan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.COM, Kendal – DPRD Kendal menyayangkan, lulusan SMK di Kendal belum bisa memenuhi kriteria untuk bisa bekerja di perusahaan yang di Kawasan Industri Kendal (KIK). Alasannya karena belum cukup memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

Selain itu, alat praktek yang digunakan siswa di sekolah maupun Balai Latihan Kerja (BLK) belum sesuai kebutuhan pabrik. Sehingga dianggap tidak memenuhi persyaratan.

Ketua Komisi D DPRD Kendal Mahfud Sodiq mengatakan, siswa lulusan SMK sebenarnya memiliki peluang besar dalam dunia kerja di KIK. Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi angka pengangguran di Kendal.

“Contohnya seperti PT Eclat di KIK. Di sana membutuhkan enam ribu karyawan dan kita belum mampu secara kriteria dan skill,” tuturnya, kemarin.

Kendalanya ada di alat praktek yang digunakan di laboratorium sekolah. Dimana alat praktek berbeda dengan yang di pabrik. “Ini menjadi PR sekolah-sekolah di Kendal,” paparnya.

Mahfud berharap, adanya kurikulum merdeka yang akan diterapkan di jenjang pendidikan SMK swasta di Kabupaten Kendal ini bisa membuat sekolah bersaing dengan sekolah lain di luar Kabupaten Kendal. Terlebih bisa memenuhi kriteria perusahaan di wilayah Kendal.

Selain itu, pihaknya juga meminta agar siswa-siswi SMK dapat meningkatkan soft skill-nya untuk persiapan terjun ke dunia kerja.”Banyak sekali perusahaan di Kendal itu juga mengeluhkan attitude dan soft skill masyarakat Kendal. Nah, untuk itu khususnya siswa-siswi SMK dalam masa jenjang pendidikan bisa meningkatkan soft skill-nya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah XIII Ernest Ceti Septyanti mengatakan, penerapan kurikulum merdeka di kalangan SMK swasta di Kabupaten Kendal diharapkan bisa membuat masing-masing kepala sekolah dan guru lebih kreatif dan inovatif. Itu dilakukan supaya lulusan SMK negeri maupun swasta di Kabupaten Kendal bisa bersaing dan bisa mengisi lapangan pekerjaan.

“Selain itu juga perlu inisiatif guru dan siswanya.  Melalui workshop kurikulum, kita tingkatkan mutu pembelajaran,” tuturnya.

Ernest meminta, supaya guru di SMK tidak melulu memberikan pembelajaran hardskill saja. Melainkan juga memberi pelatihan soft skill untuk bekal siswa setelah lulus.

“Soft skill harus diperhatikan oleh guru SMK. Karena selama ini banyak keluhan perusahaan terkait soft skill lulusan SMK yang belum memadai,” tandasnya. (dev/bud/adv/web/bas)


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya