28 C
Semarang
Tuesday, 1 April 2025

Radio Transistor Membangkitkan Cerita Lama

Artikel Lain

RADARSEMARANG.COM – Perangkat komunikasi ini berbentuk portable kecil. Pernah berjaya di tahun 1960 sampai 1970-an. Menjadi bagian sejarah pada zamannya. Kini radio transistor sebagai barang antik pajangan kolektor.

Dimas Indra Febriyanto, warga Kabupaten Magelang belum puas hanya memiliki satu radio transistor. Sejak tahun 2015, ia menambah terus koleksinya. Kini berjumlah ratusan. Perburuan barang-barang lawasan ini dia lakoni sampai luar kota. Ke Cilacap, Surabaya dan sebagainya. Tidak sekadar biaya dia keluarkan. Butuh perjuangan, kesabaran. Juga “antena” yang kuat, agar mudah mendapatkan informasi seputar jual-beli radio transistor. Kadang ia harus mengunjungi toko-toko elektronik lama yang masih eksis. Ke pasar klitikan, juga ke tukang rongsok atau barang bekas. Kemudian membeli secara online. Selain radio transistor, ia juga mengoleksi radio saku.

Dimas, sapaan akrabnya, bercerita mengapa ia suka radio transistor. Sekitar tahun 2009, dia seorang penyiar radio. Pada 2015, ia berhenti dari pekerjaan yang telah membesarkan namanya itu.

Ada rasa rindu di sana. Ia memutuskan menjadi kolektor radio tempo dulu. Koleksi pertamanya, radio Telesonic TR 330 keluaran tahun 1980-an. “Dasarnya saya itu suka barang antik, hehehe,” katanya.

Tidak lama, pria kelahiran Magelang, 19 Maret 1985 itu memiliki barang yang sama. Namun dengan kualitas lebih baik. Sehingga koleksi pertamanya itu ia relakan dibeli temannya. “Kalau koleksi radio tertua saya ada Tjawang Kompas,” bebernya.

Ia membeli radio-radio jadul alias zaman dulu itu dengan harga yang bervariatif. Kisarannya Rp 250 ribu sampai Rp 1,5 juta. “Orang tua mendukung hobi saya, cuma bilang, opo ora eman-eman karo duwite (apa nggak sayang sama uangnya),” kenangnya.

Menurut Dimas, harga radio transistor saat ini cukup mahal. Dulu Rp 250. Sekarang bisa di atas Rp 500 ribu. Belum lagi harga radio berwarna pastel. Bisa lebih mahal. “Sekarang cari yang warna pastel agak susah, terutama yang warna wortel (oranye, Red),” ujarnya.

Warga Kendalgrowong, Pucungrejo, Muntilan, Kabupaten Magelang mengaku, tahun 2018 puncak dia heboh membeli radio transistor. Tiap minggu, paketan radio datang. Dia baru mengerem belanja radio transistor saat pandemi Covid-19 ini.  “Tapi kalau ada yang bagus, tetep saya beli,” ucapnya.

Nah, Dimas juga bercerita, bahwa radio transistor yang sampai ke tangannya tidak semua dalam keadaan bagus. Ada yang berdebu dan memiliki noda cukup banyak. “Saya telateni, saya bersihkan, dilap, disikat juga,” ucapnya.

Sampai sekarang, ia masih rajin melakukan perawatan. Memanasi mesin juga menjadi agenda rutinnya di rumah. “Karena 85 persen kondisi radio saya ini hidup. Semua pakai baterai,” ungkapnya.

Radionya masih bisa menangkap gelombang medium wave (MW). Sekarang di sebut amplitude modulation (AM). Dulu tidak ada frequency modulation (FM). Hanya MW, dan short wave (SW) yang menangkap siaran luar negeri.  “Radio saya ini masih nangkep siaran AM stasiun radio Jogkakarta.”

Mengoleksi radio transistor bukan hanya untuk kesenangan diri sendiri. Ia ingin menyenangkan orang lain. Orang-orang sepuh, banyak yang datang ke rumahnya sekadar bernostalgia. “Ini alasan saya mengoleksi radio transistor, ingin membangkitkan cerita lama, karena banyak orang-orang tua yang melewati masa-masa ini,” ucapnya.

Menurutnya, radio transistor muncul di era tahun 1950-an. Setelah Kemerdekaan RI. Berbeda jika dia mengoleksi radio tabung, mungkin tidak punya cerita unik, karena generasi sebelum kemerdekaan sudah banyak yang tutup usia. “Serunya kalau radio transistor banyak juga anak muda yang ingat simbahnya atau bapaknya pernah punya radio seperti ini,” ungkapnya.

Dirinya punya cara khusus membeli radio transistor bekas yang berkualitas. Ia mengecek skema, dan meneliti suku cadang. Barang asli, biasanya masih terdapat skema. Skema ini seperti petunjuk teknis. Kemudian ada tempat batrai, terdapat varco untuk menyaut gelombang atau frekuensi, ada tutup atau knop, serta kumparan.

“Kalau mau beli online, saya pasti minta video kondisi di bagian dalam, atas, bawah, samping,” ucapnya.

Lain halnya jika radio kondisi new old stock atau NOS. Ciri khas yang melekat, tangkai atau pegangan radio masih diplastik. Bahkan masih ada yang memiliki kelengkapan kardus, dan gabus atau styrofoam.

“NOS itu kondisi barangnya masih bagus, karena memang barang baru belum pernah dipakai,” tandasnya. Setiap radio punya kelemahan. Ini yang harus ia kenali. Agar tidak salah dalam perawatan.

“Misalnya merek ini biasanya tangkai mudah patah, merek ini mudah retak pada bagian bawah, dan sebagainya. Oh ya, jangan meninggalkan baterai di dalam radio, supaya awet,” bebernya. Ada satu koleksi langkanya. Yakni radio merek Citizen. Radio ini dikeluarkan oleh perusahaan arloji Citizen, yang memesan 10 radio untuk pelanggannya. “Saya dapat dari kolektor Klaten,” ujarnya.

Dua tahun sebelum radio itu di tangannya, ia menemui kolektor tersebut. Segala jurus rayuan tidak mempan. “Sudah ngrayu nggak dikasih. Tapi dua tahun setelah ke sana, saya nggak sengaja lihat orang itu  mengunggah koleksinya di Facebook. Sudah banyak sekali yang komentar, tapi saya langsung menghubungi beliau,” ujarnya.

Lantaran pernah kenal, dan serius ingin mengoleksi, dia menjadi pemenang. Ia membawa pulang radio itu dengan harga Rp 1,2 juta. “Setelah itu, banyak sekali yang mau beli. Ada yang menawar dua kali lipat, saya nggak mau, hahaha,” ucapnya. Ia masih akan terus mengoleksi benda-benda berharganya itu. “Ada rasa bangga. Nggak semua orang punya barang ini. Dan saya bisa menyelamatkan sejarah,” pungkasnya. (put/lis/bas)


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya