32 C
Semarang
Friday, 4 April 2025

Merawat Sisa Kejayaan Roll Film

Artikel Lain

RADARSEMARANG.COM – Saat ini istilah ‘cuci film’ memang sudah asing di telinga. Terutama bagi kalangan milenial. Ya, aktivitas mengubah film yang baru diekspos agar bisa dilihat dengan mata telanjang tersebut memang sudah jarang dilakukan. Seiring dengan menurunnya tren penggunaan kamera analog di masyarakat.

Teknologi digital yang makin berkembang membuat bisnis cuci film tegerus. Bahkan gulung tikar. Di Semarang sendiri hanya ada satu yang bertahan. Yakni Fotogra.film Lab. Berlokasi di Jalan Argopuro Nomor 21, Gajahmungkur, Semarang lab ini, menjadi salah satu tujuan bagi penggemar setia kamera analog untuk mencuci film hasil jepretan mereka. Dibanding harus mengirimkan ke Jakarta yang tentu membutuhkan biaya tidak sedikit.

Pengelola Fotogra.film Lab, Gizska Jati Parama mengatakan, saat ini memang sedikit orang yang tertarik membuka lab cuci foto. Meski pangsa pasar pada 2020 ini kamera analog dan cuci film mulai tren kembali pada generasi milenial, namun hal tersebut bukan menjadi jaminan daya tarik. Alhasil dari tahun 2018 sampai sekarang hanya dirinya lah yang membuka film lab di Semarang.”Ya cuma kita satu-satunya. Jadi kadang dari daerah sekitar Semarang juga mencucinya di sini,” ujarnya.

Sebenarnya tidak ada yang berbeda. Terkait proses mencuci film dari dulu dan sekarang. Dari proses mengeluarkan film, merapikan film. Termasuk proses merendam pita film dalam empat cairan seluloid, yakni developer, stop bath, fixer dan air pun masih sama.

“Yang membedakan hanya lab film dulu memfasilitasi untuk cetak foto juga. Sedangkan saat ini lebih banyak masyarakat meminta hasil scan gambar. Yang lebih memudahkan mereka untuk memposting hasil gambar ke sosial media,” terangnya.

Hanya saja, Giezka menyadari memang ada kendala yang menghalangi masyarakat menggiatkan kembali usaha lab film. Salah satunya terkait keterbatasan teknisi dan modal yang besar. Pasalnya alat yang digunakan mulai dari proses pengambilan film, mencuci hingga men-scan gambar tidak lah murah. Butuh teknisi yang memang paham merawat mesin tersebut. Sayangnya saat ini teknisi mesin cuci film sangat minim. Bahkan menurutnya di Jakarta hanya ada satu teknisi yang menangani beberapa lab di sana.

“Katakanlah modal bisa dicari. Tapi teknisi mencarinya di mana. Itu yang akhirnya membuat banyak orang enggan kembali membuka lab cuci foto,” tandasnya.

Meski saat ini dirinya mendominasi pasar cuci film di Semarang, Giezka justru berharap ada beberapa pihak yang tertarik membuka bisnis film lab. Menurutnya, kehadiran kompetitor justru dapat meningkatkan kualitas. Adanya persaingan membuatnya dapat berkembang dan berkarya lebih baik lagi. Jika jadi pemain tunggal seperti saat ini, ia mengaku stuck. Ia tidak dapat mengukur apalagi yang bisa di-upgrade terkait kualitas jasa yang ditawarkan.

“Dibanding jadi pemain tunggal, saya justru berharap di Semarang ada kompetitor. Karena saya menganut adanya persaingan bisa membuat kita lebih berkembang,” tegasnya.

Sebagai upaya mengembalikan popularitas tren cuci film, Giezka bersama tim Fotogra Foto tidak sungkan berbagi ilmu. Terkait jenis kamera analog dan teknik cuci foto. Karena dari awal membuka bisnis, mereka mengaku memang memiliki misi edukasi. Untuk membuat masyarakat paham bagaimana proses dari awal kamera analog memotret gambar hingga akhirnya film di cuci untuk mendapat hasil gambar. Sehingga siapa pun pengguna analog dapat merasa puas dengan hasil karya mereka. Yang kabarnya hasil analog lebih unggul di beberapa warna yang tidak dimiliki pada hasil kamera digital. (akm/zal/bas)

 


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya