RADARSEMARANG.COM, PENDIDIKAN merupakan kegiatan universal dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan peserta didik berusaha mengembangkan potensi yang dimilikinya. Mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik, dan terampil di bidangnya.
Matematika diajarkan pada semua jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Tujuannya untuk membekali siswa sejak dini tentang berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan tidak hanya dalam ruang lingkup matematika, namun diharapkan lebih pada penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajaran agar berhasil dengan baik memerlukan usaha keras dari semua pihak baik dari siswa, guru, orang tua, lingkungan maupun pemerintah. Guru diharapkan dapat memilih metode yang baik dan tepat sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan berhasil dengan baik.
Akan tetapi masih banyak ditemui guru yang mengajar secara monoton karena hanya menggunakan satu metode saja, yaitu metode ceramah yang termasuk dalam klasifikasi metode konvensional.
Dalam pembelajaran biologi konvensional yang menggunakan metode ceramah, kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi dan siswa hanya mendengarkan, hal ini yang mengakibatkan siswa bertindak pasif.
Berikut informasi dari guru tentang gambaran selintas keadaan siswa dan prestasi siswa: 1) di ruang kelas siswa relatif tenang mendengarkan guru mengajar, 2) siswa sibuk mencatat, 3) tidak ada keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan, 4) siswa cenderung takut dan enggan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, 5) prestasi atau nilai siswa cenderung rendah.
Apabila guru ingin mengaktifkan dan meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran hendaknya guru membuat pelajaran yang menantang, merangsang daya cipta dan mengesankan.
Sering kali dalam proses pembelajaran siswa kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan taraf dan kemampuannya. Oleh sebab itu perlu dikembangkan metode mengajar yang melibatkan siswa lebih aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran yang efektif menekankan pada bagaimana agar peserta didik mampu ‘belajar cara belajar’, dan melalui kreaktifitas guru, pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan.
Selanjutnya indikator efektif adalah sebagai berikut: prestasi belajar mencapai kriteria ketuntasan minimal baik secara individual maupun secara klasikal, aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar, dalam hal ini adalah pada mata pelajaran Matematika.
Oleh sebab itu seorang guru diharapkan mampu menyajikan materi-materi dengan lebih menarik dan penuh inovasi, dengan cara memilih dan menerapkan metode yang sesuai dan efektif, sehingga dapat menarik minat belajar siswa.
Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata hasil belajar Matematika siswa kelas IX-G MTs Negeri 2 Demak yang mencapai ketuntasan masih rendah. Kondisi seperti ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: siswa cenderung kurang berminat terhadap mata pelajaran Matematika yang menurut siswa sangat membosankan sehingga siswa kurang bisa memahami materi yang diajarkan.
Metode pembelajaran yang digunakan kurang sesuai dengan materi yang diajarkan, guru lebih sering menggunakan metode ceramah dan penugasan, sehingga siswa mudah merasa bosan saat proses pembelajaran. Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa.
Mengingat tuntutan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik, perlu adanya perubahan dalam strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang seharusnya dikembangkan diharapkan dapat melayani dan memfasilitasi peserta didik untuk mampu berbuat dan melakukan sesuatu.
Mengajar pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap selanjutnya, mengajar adalah memberikan bimbingan/bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Guru dapat memberikan fasilitas untuk lebih mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS).
Spencer Kagan mengatakan metode pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan suatu metode pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan anggota kelompok lainnya dengan cara saling mengunjungi atau bertamu antar kelompok.
Hal ini memungkinkan terjadinya transfer ilmu antar siswa sehingga siswa menjadi aktif mengikuti proses pembelajaran. Menurut Sugianto (Indriyani, 2011:183) bahwa metode pembelajaran Two Stay Two Stray ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Menurut Agus Suprijono (2012:93) strategi Two Stay Two Stray atau strategi dua tinggal dua tamu adalah strategi yang dapat mendorong anggota kelompok untuk memperoleh konsep secara mendalam melalui pemberian peran pada siswa. (md2/zal)
Guru Matematika MTs Negeri 2 Demak