27 C
Semarang
Friday, 4 April 2025

Optimalisasi Hasil Belajar IPA melalui “Learning Cycle”

Oleh : Nila Ika Sari, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.COM, SAAT ini sudah mulai dilaksanakan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) terbatas. Namun, tetap mematuhi prokes yang cukup ketat. Pembelajaran di sekolah merupakan kegiatan utama dalam proses pendidikan yang umumnya bertujuan untuk membawa peserta didik menuju keadaan yang lebih baik.

Kualitas pembelajaran dan karakter siswa yang meliputi bakat, minat dan kemampuan merupakan faktor yang menentukan kualitas pendidikan. Peran guru bukan hanya sebagai satu satunya pembelajaran tetapi juga sebagai fasilitator dan pengarah.

Dimyati dan Mudjiono (2006:297) menjelaskan, “Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar”.

Pada peningkatan kualitas pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara antara lain : melalui peningkatan kualitas pendidik atau dengan menyelesaikan masalah – masalah dalam pembelajaran. Dalam peningkatan kualitas pembelajaran IPA Sekolah Dasar, harus dilaksanakan seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yaitu dapat dilaksanakan dengan menerapakan model pembelajaran sesuai pandangan kontruktivisme.

Menurut pandangan konstruktivisme dalam proses pembelajaran IPA sebenarnya disediakan serangakaian pengalaman berupa kegiatan nyata yang rasional atau dapat dimengerti siswa dan memungkinkan terjadinya interaksi sosial. Jadi saat proses belajar mengajar harus terlibat secara langsung dalam kegaitan nyata.

Komponen – komponen pembentuk model pembelajaran dirumuskan sesuai dengan sifat model pembelajaran yang disusun dan ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai melalui suatu pembelajaran (Sutarno, 2007: 8.34).

Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan teori konstruktivisme adalah Learning Cycle. Dengan menerapkan model pembelajaran Learning Cycle atau Siklus Belajar, siswa dapat memahami konsep IPA atau Sains dengan lebih baik dan dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.

Belajar dengan Learning Cycle akan menjadi lebih bermakna apabila seoang guru mampu memberikan pengalaman langsung sehingga siswa secara aktif akan mengetahui bagaimana belajar.

Jadi dalam belajar IPA siswa dapat terlibat aktif melalui serangkaian kegiatan percobaan pembelajaran IPA yang menghasilkan suatu konsep materi atau pengetahuan baru bagi siswa.

Siswa memperoleh konsep materi atau pengetahuan baru melalui pengalamannya sendiri bukan transfer pengetahuan dari gurunya. Sehingga pengetahuan yang diperolehnya akan melekat dan tidak mudah lupa. Pada awalnya Learning Cycle terdiri atas tiga tahap antara lain: eksplorasi/exporation, pengenalan konsep/concept introduction, penerapan konsep/concept application.

Pada proses selanjutnya tiga tahap tersebut mengalami pengembangan. Menurut Lorsbach (dalam Wena, 2011: 171) tiga tahap tersebut dikembangkan menjadi lima tahap yaitu: pembangkitan minat/engagement, eksplorasi/exporation, penjelasan / explanation, elaborasi / elaboration, dan evaluasi/evaluation.

Kelebihan dari Learning Cycle antara lain: dapat menumbuhkan kegairahan belajar peserta didik, meningkatkan motivasi belajar/kerja sama peserta didik, membantu mengembangkan sikap ilmih peserta didik, pembelajaran menjadi lebih bermakna, dapat menumbuhkan kegiatan belajar peserta didik. Guru dapat mengoptimalisasi hasil belajar IPA melalui Learning Cycle.

Dengan demikian peserta didik lebih dominan dalam pembelajaran baik itu melihat, mempraktekkan melalui percobaan dan menyimpulkan materi. Dengan demikian peserta didik tidak jenuh dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir serta berbagi dengan peserta didik lainnya.

Keberhasikan Learning Cycle ini ditandai dengan hasil evaluasi peserta didik sekolah penulis SD Negeri Ngampin 02 Ambarawa yang meningkat yaitu 85 % hasil belajar peserta didik diatas KKM. (unw1/zal)

Guru SDN Ngampin 02 Ambarawa


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya