29 C
Semarang
Monday, 31 March 2025

Pembelajaran Asyik Menulis Anekdot melalui Teknik Parafrase

Oleh: Endang Sunarti, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.COM, Anekdot merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan ini menjadi produk kebahasaan yang menarik untuk dipelajari. Menurut Mahsun (2014:22) teks anekdot adalah teks yang menampilkan cerita yang membuat partisipan yang mengalaminya merasa jengkel, konyol, atau lucu. Isi anekdot biasanya cerita singkat yang lucu atau menarik, yang mungkin menggambarkan kejadian atau orang sebenarnya.

Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, anekdot diajarkan di kelas X jenjang SMA pada semester 1. Kompetensi pengetahuan yang diharapkan peserta didik mampu menganalisis makna tersirat dan aspek kebahasaan teks anekdot. Pada kompetensi keterampilan, peserta didik diharapkan mampu mengonstruksi makna tersirat dalam anekdot yang dibaca serta mampu membuat kembali teks anekdot.

Ranah keterampilan ini tergolong kompetensi yang sulit dikuasai oleh sebagian besar peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Slawi. Peserta didik kebanyakan mampu memahami letak kelucuan dan kritik dalam anekdot, namun merasa kesulitan mengungkapkan kembali dalam bentuk lain berupa tulisan maupun lisan tanpa mengubah maknanya. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, penulis menggunakan metode parafrase untuk membantu peserta didik menyusun teks anekdot dari beragam sumber yang tersedia.

Parafrase sudah lazim ditemui dalam proses pembelajaran, terutama pada proses mempelajari puisi. Biasanya parafrase dipergunakan untuk menganalisis puisi dan mengubahnya menjadi bentuk prosa maupun deskripsi. Dalam konteks yang lebih besar, parafrase juga dipergunakan dalam proses penulisan teks untuk menghindari plagiasi serta dipergunakan pula untuk menguraikan beragam simbol-simbol kebahasaan lain agar lebih mudah dipahami khalayak.

Menurut Kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary, parafrase merupakan cara mengekspresikan apa yang telah ditulis dan dikatakan oleh orang lain dengan menggunakan kata-kata yang berbeda agar membuatnya lebih mudah untuk dimengerti atau dengan kata lain pengutipan yang dilakukan dalam parafrase merupakan kutipan yang menggunakan kata-kata sendiri untuk mengungkapkan ide yang sama, atau digunakan untuk menjaga koherensi dan keutuhan alur tulisan.

Menurut OWL Purdue, sebuah parafrase sangat berharga karena (a) parafrase lebih baik dibandingkan dengan mengutip informasi dan sebuah paragraf atau tulisan yang kurang menonjol; (b) parafrase membantu penulis untuk mengontrol percobaan melakukan kutipan yang terlalu sering; (c) proses mental yang dibutuhkan bagi keberhasilan sebuah parafrase membantu penulis untuk memahami sepenuhnya makna teks sumber yang akan ia sadur.

Parafrase dapat dilakukan melalui beragam cara. Salah satunya menurut Kridalaksana (2008) langkah-langkah membuat parafrasa (1) mengartikan kata yang sulit, (2) mengartikan kata yang sengaja dihilangkan penulisnya, (3) menambah tanda baca, dan (4) menyusun dalam bentuk kalimat yang membentuk paragraf, (5) membaca teks keseluruhan. Sumber parafrase yang dipergunakan dalam pembelajaran anekdot ini diantaranya, naskah anekdot, berita-berita kontroversial, stand up comedy, dan karikatur-karikatur sindiran.

Melalui media-media ini, peserta didik dapat lebih tertarik untuk mengonstruksi anekdot karena objek yang diperolehnya dekat dengan kehidupan mereka. Topik-topik yang segar pun diharapkan mampu menjadi stimulus yang membuat proses menyusun anekdot menjadi tidak membosankan.

Dalam proses pembelajaran di kelas, secara umum langkah-langkah mengonstruksi dan mencipta kembali makna tersirat maupun teks anekdot utuh. Pertama, menentukan topik yang menggelitik (lucu) dan mengandung hikmah atau pelajaran tertentu dari sumber dan beragam bentuk yang disukainya. Kedua, menyusun kerangka teks agar padu berdasarkan strukturnya. Ketiga, menyusun parafrase dengan mengartikan kata sulit, mencari sinonim, mengidentifikasi makna tersirat, dan mengembangkan sumber lain yang relevan. Keempat, menandai bagian yang dianggap paling menarik, lucu, atau berkesan. Kelima, mengembangkan kerangka teks anekdot menjadi teks utuh dengan menggunakan ungkapan, gaya bahasa, konjungsi dan kalimat retoris yang tepat. Keenam, memberi judul yang menarik.

Melalui proses parafrase ini, peserta didik dapat lebih mudah menemukan topik, mengembangkan ide, serta mewujudkannya dalam sebuah konstruksi teks anekdot yang menarik. (bk1/aro)

Guru SMA Negeri 2 Slawi, Kabupaten Tegal


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya