RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Wonosobo telah overload. Diprediksi, TPA hanya akan bertahan hingga 2026. Hal ini memaksa desa di Kabupaten Wonosobo musti membuat terobosan untuk mengurai persoalan sampahnya secara mandiri.
“Volume benar benar full tahun 2026. Ini sudah tahun 2023, harus ada penyiapan salah satu strateginya pengolahan sampah di beberapa wilayah. Edukasi dan penyadaran sudah tidak signifikan. Yang dibutuhkan pengelolaan sampah bersama,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo, Endang Lisdiyaningsih.
Pihaknya mendorong pengelolaan sampah atau TPST di sejumlah wilayah di Wonosobo. Seperti yang mulai dirintis di Desa Sitieng dan Jojogan Kecamatan Kejajar. Warga setempat telah melakukan inovasi pengurangan sampah hingga zero residu.
Desa Sitieng membentuk kelompok Pemuda Peduli Lingkungan (Pepeling) pada 2017.
“Kita sekarang punya 22 anggota aktif di pepeling. Mereka bertugas berkeliling di setiap rumah warga,” terang Ketua Pepeling, Desa Sitieng,, Miftahus Syarofi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (19/5).
Sampah-sampah itu dikumpulkan disesuaikan jenisnya. Hanya dalam satu minggu, pepeling bisa mengumpulkan 4,50 kuintal sampah organik. Sampah organik dimasukkan dalam kolam pengendapan selama 3 bulan sebelum diayak menjadi pupuk.
“Kita punya 3 kolam yang bertugas mengubah sampah organik menjadi komposer. Caranya, sampah organik akan diendapkan terlebih dahulu selama 3 bulan. Setelah membusuk sampah akan diayak hingga menjadi butiran-butiran pupuk siap pakai,” jelasnya.
Sementara yang anorganik seperti plastik bekas, dijual ke pengepul. Hasil penjualan digunakan untuk membeli sarana fasilitas publik.
“Jadi pengelolaan ini dilakukan sukarela. Anggota belum mendapat hasil. Karena setiap pemasukan, digunakan untuk membeli lampu jalan atau semacamnya,” imbuhnya.
Di Desa Jojogan, warga membuat alat semacam incinerator sederhana di empat dusun untuk mengurangi sampah. Mesin yang dimaksud adalah alat pembakar sampah organik dan anorganik (apsonik). Mesin sederhana yang dirancang untuk membakar seluruh sampah.
Penemu alat apsonik asal Desa Jojogan, Sukoco menjelaskan semula sampah di Desa Jojogan terus menumpuk saban harinya. Tak hanya di TPST, penumpukan sampah itu terjadi di aliran sungai.
Akhirnya ia menciptakan alat sederhana yang dinamai apsonik. Alat ini terbuat dari besi sederhana yang dilas hingga menyerupai balok persegi panjang. Dengan tungku pengapian berada di bawah, bertugas membakar sampah di atasnya.
“Pengoperasiannya sangat sederhana. Hanya menggunakan oli dan menaruh air di ketel penguapan hingga menghasilkan dorongan api yang sangat besar,” ujarnya.
Menurutnya, sistemnya pengoperasiannya hampir sama seperti oven. Sampah yang masuk ke dalam drum dibakar hingga mencapai 600 derajat celcius yang menjadikan sampah tersebut terbakar hingga manjadi abu.
“Keunggulan apsonik, sekali pembakaran bisa sampai 2 kuintal sampah. Apapun bisa masuk di pengolahan ini tanpa ada pemilahan terlebih dahulu,” ungkapnya.
Abu sisa pembakaran sampah dimanfaatkan warga sebagai penetralisasi tanah bagi tanaman kentang. Menurut Kepala Desa Jojogan Nadhiratun Munawaroh apsonik sangat membantu. Karena sampah benar-benar berkurang.
“Kita tidak lagi membuang sampah ke TPA Wonorejo. Padahal dulu biasa membuang sampah hingga 4 ton per minggu,” terangnya.
Dengan alat ini Pemdes Jojogan bisa menghemat anggaran hingga puluhan juta rupiah.
“Sebelum memiliki alat pembakar sampah ini, setiap tahun menganggarkan Rp 40 juta untuk membuang sampah ke TPA Wonorejo,” jelasnya.
Diakui alat ini belum sempurna – belum ada uji emisi- namun banyak membantu warga. Mengingat saat ini ada kebijakan buang sampah ke TPA Wonorejo yang harus dikurangi hingga 50 persen. (git/adv/lis)